Sofian menjelaskan, Al-Qur'an ditempatkan sebagai sumber nilai dan petunjuk. Sementara itu, sains digunakan untuk memahami fenomena alam melalui pengamatan dan pembuktian.
“Kami tidak memaksakan suatu ayat untuk membenarkan teori sains tertentu,” ujarnya.
Menurut Sofian, setiap hubungan antara ayat dan fenomena ilmiah harus memperhatikan konteks ayat serta dasar ilmiahnya.
Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan semakin kagum dan bersyukur saat mempelajari alam tanpa mencampuradukkan tafsir agama dengan kesimpulan ilmiah.
Kompetisi di Tiap Jenjang
Kompetisi FELISA berlangsung setiap hari pukul 08.00-15.00 WIB dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan.
Siswa TK mengikuti Little Qur'anic Storytelling serta observasi alam dan tadabbur Al-Qur'an.
Siswa SD mengikuti Qishotul Qur'an, eksperimen sains qurani, dan Fahmil Qur'an.
Sementara siswa SMP mengikuti Workshop Karya Ilmiah Remaja, Maze Runner, dan pembuatan video pendek qurani.
Untuk siswa SMA, kompetisi meliputi karya ilmiah, infografis, Syarhil Qur'an, dan Rangking 1.
Riffat, siswa kelas 5 Phobos, mengikuti lomba puzzle. Ia menyusun kepingan yang membentuk kisah Nabi Musa, kemudian menceritakannya kembali.
“Lumayan grogi. Tapi yang bikin aku berani, ada insting buat menceritakan kembali ceritanya, terus ada dukungan dari teman-teman,” tutur Riffat.
Siswa kelas 7D, M. Aizar A.A., membuat rakit dari galon dan bambu serta mencoba flying fox untuk pertama kalinya.
Baca Juga: Usai Putusan MK, Refly Harun Prediksi Gibran Mundur dan Soroti Jalur Pemakzulan
Sementara itu, siswa kelas 8A, Alifa Aprilia Mashendra, menyebut kegiatan di empang sebagai pengalaman paling berkesan.
“Semua kegiatan seru banget dari tadi pagi sampai akhir, apalagi pas nyebur ke empang, rasanya nggak mau naik lagi,” ujarnya.