Menurutnya, pinisi menjadi simbol dari kekompakan, kerja sama, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
“Ini bukti kebersamaan dan etos kerja masyarakat Bulukumba. Pinisi sarat dengan kearifan lokal. Di sini menjadi bukti kekompakan,” ujarnya.
Baca Juga: Ikon Bulukumba Perahu Pinisi Terbakar Diatas Gedung Satap, Pengelola Perketat Pengawas
Sebelum peluncuran, budayawan Bulukumba Andi Abdul Karim yang akrab disapa Andhika Mappasomba memberikan story telling yang menceritakan lebih filosofis dari budaya annyorong Lopi yang sudah menjadi tradisi turun temurun pada masyarakat Bontobahari.
Dikatakan jika tradisi ini tidak dilestarikan, maka dikhawatirkan generasi muda dan generasi mendatang tidak lagi mengetahui makna dan filosofi dari tradisi tersebut.
Peluncuran tidak lagi secara manual dengan menarik kapal dengan tali tambang, tapi sudah menggunakan teknologi katrol untuk membantu menggerakkan kapal menuju tepian pantai.
Olehnya itu prosesi annyorong lopi menjadi salah satu momen yang memperlihatkan kuatnya hubungan antara tradisi, masyarakat, dan potensi pariwisata Bulukumba.
Di tengah antusiasme wisatawan mancanegara, peluncuran kapal pinisi juga mempertegas bahwa warisan budaya maritim tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui sektor pariwisata.
Dengan berlayarnya kapal tersebut menuju Labuan Bajo, keterampilan para pengrajin pinisi Bulukumba diharapkan semakin dikenal luas, sekaligus memperkuat posisi pinisi sebagai identitas budaya yang memiliki daya tarik hingga ke tingkat internasional.(*)