Achmad mendorong dialog yang melibatkan Panrita Lopi, pengrajin, budayawan, akademisi, pemerintah daerah, dan pelaku industri.
Dialog tersebut diharapkan menghasilkan kriteria autentisitas yang jelas, dokumentasi teknik tradisional, serta program regenerasi pengrajin.
Mekanisme promosi dan pemanfaatan komersial juga perlu disusun dengan tetap menghormati komunitas pewaris budaya.
“Jangan sampai Pinisi hanya dipertahankan namanya, tetapi karakter dan pengetahuan yang membentuknya justru semakin terpinggirkan. Kita harus memastikan bahwa pengembangan industri tetap berjalan seiring dengan perlindungan warisan budaya,” menjadi prinsip yang perlu dikedepankan dalam pembahasan ini.
Dorong Perlindungan bagi Panrita Lopi
Achmad juga mendorong Pemerintah Kabupaten Bulukumba menjadikan pelestarian Pinisi sebagai program berkelanjutan, bukan sekadar agenda tahunan.
Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat pendataan pengrajin dan dokumentasi pengetahuan tradisional.
Pendidikan keterampilan bagi generasi muda, ketersediaan bahan baku berkelanjutan, serta dukungan ekonomi bagi pembuat kapal juga perlu diperhatikan.
Ia turut mendorong kajian terhadap instrumen hukum yang dapat memperkuat pengakuan atas asal-usul budaya, praktik tradisional, dan karakter Pinisi.
Langkah tersebut harus tetap mengacu pada ketentuan hukum yang berlaku.
Perlindungan ini penting agar masyarakat penjaga tradisi tidak hanya menjadi objek promosi pariwisata. Mereka juga harus merasakan manfaat dari berkembangnya industri dan popularitas Pinisi.
Menurut Achmad, keberhasilan Festival Pinisi tidak cukup diukur dari kemeriahan acara dan jumlah pengunjung.
Keberhasilan juga harus terlihat dari keberlanjutan tradisi, kesejahteraan pengrajin, dan kesediaan generasi muda meneruskan keahlian leluhurnya.
Menjaga Marwah Pinisi Bulukumba
Melalui Festival Pinisi XVI, Achmad mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan perlindungan identitas Pinisi sebagai tanggung jawab bersama.
Ia menekankan pentingnya kajian, dialog, dan perlindungan hukum agar pelestarian budaya tidak berhenti sebagai wacana.
Pinisi merupakan kebanggaan Bulukumba sekaligus bagian dari kekayaan budaya maritim Indonesia.
Karena itu, pengembangannya harus tetap menghormati masyarakat, pengetahuan, dan tradisi yang melahirkannya.
Pinisi boleh berlayar ke mana saja, tetapi akar budayanya tidak boleh dilupakan. Bontobahari bukan sekadar tempat pembuatan kapal, melainkan salah satu pusat penting tradisi Pinisi yang harus terus dihormati dan dilestarikan.