wisata

Pinisi Mendunia, Akar Budaya Jangan Terlupa

Kamis, 15 Oktober 2026 | 21:58 WIB

BULUKUMBA,Berandanews.Com — Festival Pinisi XVI di Kabupaten Bulukumba, 15–17 Oktober 2026, diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan warisan budaya maritim.

Achmad Nur Ilahi M., S.H., mendorong pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan agar lebih serius melindungi identitas serta karakter tradisional kapal Pinisi.
Menurutnya, Pinisi bukan sekadar kapal kayu. Di dalamnya terdapat pengetahuan maritim, keterampilan pertukangan, sejarah, dan identitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi.

“Jangan sampai kita hanya bangga ketika nama Pinisi dikenal dunia, tetapi abai terhadap nilai-nilai budaya dan masyarakat yang selama ini menjaga tradisi pembuatannya. Pinisi bukan sekadar bentuk kapal. Di dalamnya ada pengetahuan, keterampilan, sejarah, dan identitas yang harus terus dipertahankan,” demikian pesan yang ingin ditegaskan dalam momentum Festival Pinisi tahun ini. kata Achmad, Kamis,15/10/2026

Baca Juga: Festival Pinisi 2026 Siap Digelar, Angkat Budaya Maritim dan Dorong Ekonomi Pariwisata Bulukumba

Bontobahari dan Identitas Pinisi
Bontobahari, khususnya Tanah Beru dan kawasan sekitarnya, dikenal sebagai salah satu pusat tradisi pembuatan kapal Pinisi di Kabupaten Bulukumba.

Para Panrita Lopi tidak hanya membangun kapal. Mereka juga mewariskan pengetahuan dan keterampilan yang terbentuk melalui pengalaman panjang serta praktik turun-temurun.

Achmad menilai, warisan tersebut tidak boleh kehilangan makna akibat perkembangan industri dan komersialisasi.

Penggunaan nama Pinisi dalam produksi kapal di berbagai wilayah, menurutnya, perlu diikuti perhatian terhadap autentisitas dan penghormatan terhadap pengetahuan tradisional.

Baca Juga: Ikon Perahu Pinisi Bulukumba Terbakar di Gedung Satap, Juandy Tandean: Gedung Kurang Safety

Persoalannya bukan hanya lokasi pembuatan kapal. Prosesnya juga perlu memperhatikan tradisi, teknik, dan karakter budaya yang diwariskan para Panrita Lopi.

Karena itu, ia mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan mengkaji mekanisme perlindungan yang tepat agar identitas Pinisi tetap terjaga.

Pelestarian Harus Melampaui Festival
Achmad menegaskan, pelestarian Pinisi tidak cukup dilakukan melalui festival, seremoni, dan promosi pariwisata.

Baca Juga: Gala Dinner Penutupan Festival Pinisi, Eksekutif dan Legislatif Terlihat Kompak

Upaya tersebut harus mencakup pewarisan pengetahuan tradisional kepada generasi muda. Kesejahteraan pengrajin dan dokumentasi teknik pembuatan kapal juga perlu mendapat perhatian.

Selain itu, masyarakat pewaris tradisi harus memperoleh pengakuan yang layak atas pengetahuan dan keterampilan mereka.

Halaman:

Tags

Terkini

Pinisi Mendunia, Akar Budaya Jangan Terlupa

Kamis, 15 Oktober 2026 | 21:58 WIB

Pesta Rakyat Selayar Resmi Dibuka, Bangkit Pasca Pandemi

Jumat, 30 September 2022 | 19:57 WIB

Sandiaga Uno Akan Nginap di Bira

Minggu, 21 November 2021 | 12:29 WIB