Makassar, Beranda.News– Perayaan Idulfitri setiap tahun identik dengan gema takbir dan suasana kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan. Namun di balik kemeriahan tersebut, terdapat proses sunyi yang dinilai lebih penting, yakni pergulatan batin manusia dalam mengendalikan diri selama sebulan penuh.
Muhammad Fadhil, SDM Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial RI, menilai Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan moral yang seharusnya berdampak pada kehidupan setelah Idulfitri.
Menurutnya, selama Ramadan seseorang belajar menahan hal-hal yang sebenarnya mudah dilakukan, seperti makan, marah, berbohong, atau mengikuti keinginan sesaat. Proses itu tidak selalu berhasil, tetapi memberi kesempatan untuk melihat diri sendiri secara lebih jujur.
“Pertanyaannya sederhana, setelah semua itu, apa yang berubah?” tulis Fadhil dalam refleksinya tentang makna Idulfitri.
Ia menilai, Idulfitri kerap berhenti sebagai perayaan semata. Setelahnya, banyak orang kembali pada kebiasaan lama, sehingga latihan selama Ramadan perlahan memudar. Di titik inilah, menurut dia, makna Idulfitri sering kali hilang.
Fadhil mengaitkan pengalaman spiritual Ramadan dengan pembangunan bangsa. Selama ini, kata dia, kemajuan sering diukur dari hal-hal yang terlihat, seperti pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau perkembangan kota.
Namun, ada aspek yang jarang diperhatikan, yakni kualitas batin manusia yang menjalankan semua sistem tersebut, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan cara seseorang mengambil keputusan saat tidak ada yang melihat.
Ia menyinggung pandangan Ibnu Khaldun yang menyebut kekuatan peradaban tidak hanya bertumpu pada bangunan fisik, tetapi pada solidaritas, kepercayaan, dan kekuatan moral masyarakatnya. Hal-hal tersebut tidak tampak, tetapi sangat menentukan arah sebuah negara.
Menurut Fadhil, persoalan dalam kehidupan sehari-hari sering kali bukan terletak pada sistem, melainkan pada niat dan kebiasaan. Di ruang pelayanan publik, misalnya, masalah tidak selalu karena aturan, tetapi karena kurangnya integritas. Di dunia kerja, hambatan bukan semata pada kemampuan, tetapi pada kebiasaan mencari jalan pintas.
Ia juga mengutip pesan Al-Qur’an bahwa perubahan suatu kaum tidak akan terjadi sampai mereka mengubah diri mereka sendiri. Perubahan, kata dia, tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa dalam diri manusia ada satu bagian yang menentukan baik buruknya perilaku, yaitu hati. Jika hati baik, maka tindakan akan baik, dan jika hati rusak, maka rusak pula perilakunya.
Fadhil menilai kondisi sebuah bangsa tidak jauh berbeda. Banyak harapan ditumpukan pada kebijakan dan sistem, tetapi jarang ada pertanyaan jujur tentang keadaan batin orang-orang yang menjalankannya.
Idulfitri, menurutnya, seharusnya menjadi momentum untuk melihat hal tersebut. Bukan hanya merayakan kemenangan, tetapi membawa nilai-nilai Ramadan ke dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga amanah, menahan diri, dan tetap jujur meski tidak diawasi.
Ia menegaskan, pembangunan sebesar apa pun akan rapuh jika tidak ditopang oleh karakter manusia yang kuat. Sebaliknya, perubahan kecil yang dilakukan banyak orang secara konsisten dapat menjadi fondasi kokoh bagi masa depan bangsa.
“Pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun di luar, tetapi oleh apa yang dijaga di dalam diri manusianya,” tulisnya.