Senada dengan Insanu, Ketua Program Master dan Doktor Arsitektur Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, Dr. Eng. Ar. M. Donny Koerniawan, S.T., M.T., IAI, menilai BTN Housingpreneur Batch 3 sebagai peluang untuk menjembatani hasil penelitian dengan implementasi di dunia nyata.
Menurut Donny, kalangan akademisi, termasuk di ITB, telah menghasilkan banyak inovasi. Namun, tidak semua gagasan tersebut berhasil dikembangkan menjadi produk atau solusi yang dapat digunakan masyarakat.
Dalam dunia inovasi, kondisi tersebut dikenal sebagai death valley atau jurang kematian, yakni fase ketika sebuah gagasan sulit berlanjut dari tahap penelitian dan pengembangan menuju penerapan komersial atau pemanfaatan secara luas.
Hambatan yang sering dihadapi meliputi keterbatasan pendanaan, minimnya minat produsen, serta terbatasnya jaringan dengan pelaku industri. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan kolaborasi antara sejarawan, pelaku bisnis, produsen, pemerintah, dan masyarakat.
“Saya melihat BTN Housingpreneur Batch 3 sebagai peluang yang sangat baik. BTN berupaya menjembatani penyimpangan tersebut dengan mempertemukan akademisi, pelaku bisnis, dan produsen,” kata Donny.
Ia menilai inisiatif BTN, termasuk melalui kegiatan roadshow ke berbagai kampus, dapat menjadi langkah strategi untuk mempertemukan penghasil inovasi dengan pihak yang mampu mengembangkan dan menerapkannya.
Melalui BTN Housingpreneur Batch 3, kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri diharapkan tidak hanya menghasilkan gagasan baru, tetapi juga mendorong lahirnya solusi perumahan yang inovatif, terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.***