Kekerasan dan perusakan fasilitas publik juga menjadi persoalan terpisah dari aspirasi sosial yang dibawa peserta aksi.
Biaya Hidup dan Pendidikan Jadi Pemicu Demonstrasi
Demonstrasi pada Sabtu, 17 Oktober 2026, berkaitan dengan meningkatnya biaya hidup, kondisi sekolah, dan pendanaan pendidikan.
Aksi tersebut melibatkan pelajar, mahasiswa, serikat pekerja, serta kelompok masyarakat yang mempersoalkan kondisi ekonomi dan layanan publik.
Menurut laporan Le Monde, jumlah peserta demonstrasi diperkirakan mencapai 550.000 hingga 800.000 orang di seluruh Prancis.
Angka tersebut berbeda antara perkiraan pemerintah dan klaim pihak penyelenggara aksi.
Meski banyak peserta menyampaikan tuntutan melalui pawai, sejumlah kelompok terlibat bentrokan dan perusakan di beberapa kota.
Di Paris, kerusuhan juga disertai upaya penjarahan toko dan perusakan etalase di kawasan komersial.
Penjarahan menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku usaha karena barang dagangan hilang dan bangunan mengalami kerusakan.
Namun, nilai total kerugian akibat peristiwa tersebut belum dapat dipastikan.
LV dan Hermès Dijarah
Di tengah pemberitaan mengenai penjarahan, akun Instagram @complexstyle turut membagikan informasi tentang sejumlah gerai merek internasional yang diduga menjadi sasaran.
Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan:
“Demonstrasi di seluruh Prancis dilaporkan meningkat menjadi bentrokan dengan polisi, kebakaran, dan penjarahan. Toko Louis Vuitton, Apple, Celine, Hermès, dan sejumlah gerai lainnya diduga menjadi sasaran.”
Unggahan itu juga mengaitkan demonstrasi dengan buruknya kondisi sekolah, pendanaan pendidikan, dan biaya hidup yang mendorong masyarakat turun ke jalan.