Menurut Yuddy, prinsip tersebut harus dimulai dari tingkat pimpinan tertinggi. Keteladanan dari pucuk pimpinan dinilai akan menjadi contoh bagi jajaran di bawahnya.
Dengan demikian, perubahan struktur organisasi yang dilakukan di awal kepemimpinan Suyudi Ario Seto dapat menjadi pintu masuk bagi agenda reformasi internal yang lebih luas.
Baca Juga: Sandang Bintang Dua, Adex Yudiswan Resmi Duduki Kursi Wakapolda Metro Jaya
Tantangan Setelah Perombakan
Perombakan 88 perwira pada akhirnya bukan sekadar persoalan siapa menempati jabatan apa. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan perubahan tersebut berdampak terhadap cara organisasi bekerja dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Yuddy menilai reformasi internal Polri harus bermuara pada peningkatan profesionalisme, integritas, serta kepercayaan publik.
Pergantian struktur, kata dia, merupakan salah satu bagian dari proses tersebut. Tahap berikutnya adalah membuktikan bahwa perubahan kepemimpinan mampu melahirkan budaya kerja yang lebih bersih, profesional, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Catatan: Pernyataan mengenai makna dan arah perombakan merupakan pandangan Yuddy Chrisnandi sebagaimana disampaikan dalam diskusi Forum Keadilan TV. Data mutasi dan rotasi merujuk pada Surat Telegram Kapolri yang disebutkan dalam materi.
Artikel Terkait
Dari 3-4-3 ke 3-5-2, Taktik Adaptasi Herdman Bawa Indonesia Juara
Sambut HUT ke-81 TNI, Kapolsek se-Bulukumba Sambangi Koramil Bawa Kue dan Tumpeng
BSU 2026 Rp900 Ribu Kapan Cair? Ini Jadwal dan Skema Pencairannya
Kapolres Bulukumba Buka Sosialisasi SMA Kemala Taruna, 300 Siswa SMP Antusias
YouTuber Ferry Irwandi Konfrontasi Mobil yang Diduga Membuntutinya, Motif Masih Misterius