BerandaNews.Com - Industri otomotif semakin berlomba menghadirkan mobil dengan teknologi digital, mulai dari layar sentuh berukuran besar hingga pengaturan kendaraan yang terintegrasi dalam satu sistem.
Namun, di balik kesan futuristis tersebut, muncul pertanyaan mengenai kemudahan penggunaan dan potensi distraksi yang dapat dialami pengemudi saat berkendara.
Fitur seperti pengaturan pendingin udara (AC), audio, navigasi, hingga mode berkendara kini semakin banyak diakses melalui layar sentuh. Padahal, ketika pengemudi harus melihat layar dan menelusuri beberapa menu untuk menjalankan fungsi sederhana, perhatian terhadap kondisi jalan berpotensi teralihkan.
Penelitian terhadap 30 mobil model 2017 menunjukkan bahwa sejumlah aktivitas melalui sistem infotainment membutuhkan perhatian tinggi dari pengemudi.
"Karena itu, desain dan cara pengoperasian fitur digital menjadi aspek penting dalam keselamatan berkendara," tulis AAA Foundation for Traffic Safety dalam laporan penelitiannya yang diakses Minggu (18/10/2026).
Feature Bloat, Ketika Fitur Semakin Banyak tetapi Tidak Selalu Praktis
Fenomena bertambahnya fitur yang tidak selalu dibutuhkan atau justru membuat penggunaan produk semakin rumit dikenal dengan istilah feature bloat.
Dalam industri otomotif, fenomena ini dapat terlihat ketika semakin banyak fungsi kendaraan dimasukkan ke dalam sistem digital, meskipun sebagian di antaranya sebelumnya dapat dioperasikan melalui tombol atau kenop sederhana.
Layar sentuh memang menawarkan sejumlah keunggulan. Produsen dapat menyatukan berbagai pengaturan dalam satu bidang, memperbarui tampilan melalui perangkat lunak, serta menghadirkan desain dasbor yang lebih bersih.
Sistem tersebut juga memungkinkan penambahan fungsi tanpa harus menyediakan tombol fisik untuk setiap kebutuhan.
Namun, kemudahan itu bergantung pada bagaimana sistem dirancang. Jika pengemudi harus membuka beberapa submenu hanya untuk mengatur suhu kabin, mengubah arah hembusan AC, atau menyesuaikan volume audio, pengoperasian bisa menjadi lebih rumit dibandingkan menggunakan kontrol fisik yang mudah dijangkau.
Masalah lainnya adalah konsistensi antarmuka. Tombol fisik umumnya memiliki bentuk dan posisi yang dapat dikenali melalui sentuhan, sehingga pengemudi tidak selalu perlu melihatnya secara langsung.
Sebaliknya, tombol virtual pada layar tidak memberikan umpan balik fisik yang sama dan dapat berubah posisi mengikuti tampilan atau menu yang sedang dibuka.
Dalam situasi berkendara yang membutuhkan konsentrasi tinggi, perbedaan tersebut menjadi penting. Pengemudi seharusnya dapat menjalankan fungsi dasar kendaraan tanpa harus terlalu lama mengalihkan pandangan dari jalan.
Risiko Eyes-Off-Road dan Distraksi Digital