Sabtu, 17 Oktober 2026

Bahaya Karhutla untuk Penghendara Motor: Dari Risiko Pernapasan hingga Panduan Amankan Perjalanan

Photo Author
Basran, Beranda-news.com
- Sabtu, 17 Oktober 2026 | 05:56 WIB
jarak pandang terbatas akibat kabut asap karhutla/Foto tangkap layar instagram irwan0609_
jarak pandang terbatas akibat kabut asap karhutla/Foto tangkap layar instagram irwan0609_

BerandaNews.Com — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat membahayakan pengendara sepeda motor. Selain mengurangi jarak pandang, asap dari kebakaran juga berpotensi mengganggu sistem pernapasan. Karena itu, pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan dan menyesuaikan cara berkendara ketika melintasi wilayah terdampak.

Praktisi keselamatan berkendara sekaligus pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengingatkan bahwa asap akibat kebakaran memiliki karakteristik berbeda dari kabut alami. Asap dapat berasal dari kebakaran hutan, pembakaran lahan, hingga kebakaran bangunan dan kendaraan.

"Dalam kondisi tersebut, pengendara tidak cukup hanya berfokus pada kendaraan di depannya. Mereka juga perlu memastikan keberadaan kendaraannya terlihat oleh pengguna jalan lain serta mampu mengantisipasi potensi bahaya di sekitar," kata Jusri saat dihubungi Jumat (16/10/2026).

Berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan pengendara saat menghadapi kondisi tersebut.

Pastikan Kendaraan Terlihat oleh Pengguna Jalan Lain
Saat melintasi jalan yang tertutup asap tebal, pengendara harus memperhatikan posisi sepeda motor agar mudah terlihat oleh pengguna jalan lain.

Jusri mencontohkan, ketika melewati tikungan dengan jarak pandang terbatas, pengendara diimbau untuk mempertimbangkan posisi kendaraan agar tidak semakin sulit terlihat. Terutama di tikungan yang memiliki area pandang terhalang atau blind spot, posisi sepeda motor perlu disesuaikan dengan kondisi jalan.

Selain itu, pastikan lampu kendaraan berfungsi dengan baik. Visor helm juga perlu dijaga tetap bersih dan bening agar tidak semakin mengurangi visibilitas pengendara.

Jangan Hanya Mengandalkan Lampu Belakang Kendaraan di Depan
Ketika berkendara dalam kondisi gelap atau pekat asap, pengendara cenderung memusatkan perhatian pada lampu belakang maupun lampu rem kendaraan di depannya.

Padahal, menjadikan lampu tersebut sebagai satu-satunya panduan arah dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

Jusri mengingatkan pengendara untuk tetap memindai kondisi lingkungan di sekitarnya. Pandangan perlu diarahkan ke berbagai sisi, termasuk ke kanan dan kiri, untuk mengenali kondisi jalan serta potensi bahaya yang mungkin tidak terlihat dari posisi kendaraan di depan.

"Dengan begitu, pengendara tidak hanya mengikuti pergerakan kendaraan lain, tetapi juga dapat mengantisipasi hambatan yang muncul di jalur yang dilalui," jelas Jusri melalui sambungan telepon.

Antisipasi Kendaraan Berhenti hingga Permukaan Jalan Licin
Kabut asap dapat menyulitkan pengendara mengenali berbagai potensi bahaya di jalan. Karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan terhadap kendaraan yang berhenti, pejalan kaki, puing-puing, permukaan jalan licin, hingga sumber api di sekitar jalur perjalanan.

Pengendara sebaiknya mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan menghindari manuver mendadak. Jangan memaksakan diri untuk menyalip apabila jarak pandang tidak memungkinkan pengendara memastikan kondisi jalur di depannya.

Perhatian juga perlu diberikan terhadap perubahan kondisi jalan. Hambatan yang baru terlihat dalam jarak dekat dapat membuat pengendara tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan pengereman atau menghindar dengan aman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Basran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X