nasional

Bahaya Karhutla untuk Penghendara Motor: Dari Risiko Pernapasan hingga Panduan Amankan Perjalanan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 05:56 WIB
jarak pandang terbatas akibat kabut asap karhutla/Foto tangkap layar instagram irwan0609_

Gunakan Masker dan Perhatikan Kondisi Pernapasan
Selain membahayakan keselamatan di jalan, asap karhutla juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Pengendara sepeda motor memiliki risiko terpapar secara langsung selama perjalanan, sehingga perlindungan pernapasan perlu menjadi perhatian.

Jusri menyarankan penggunaan masker sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika berkendara dalam kondisi tersebut. Namun, masker tidak menghilangkan seluruh risiko paparan asap, sehingga pengendara tetap perlu membatasi paparan dan menghindari perjalanan ketika kondisi udara memburuk.

Jika asap semakin pekat atau pengendara mulai mengalami gangguan pernapasan maupun penglihatan, perjalanan sebaiknya dihentikan di tempat yang aman.

Hentikan Perjalanan Jika Jarak Pandang Tidak Memadai
Jusri menegaskan pentingnya menghentikan perjalanan ketika jarak pandang sudah tidak memadai untuk mengidentifikasi bahaya di depan.

Pengendara sebaiknya mencari tempat berhenti yang aman dan berada di luar arus lalu lintas. Hindari berhenti mendadak di tengah jalan karena kendaraan dari belakang mungkin kesulitan melihat posisi sepeda motor.

Keputusan untuk berhenti menjadi penting ketika pengendara tidak lagi dapat mengenali kondisi jalan, kendaraan lain, maupun hambatan di depannya secara memadai.

Jika Tidak Mendesak, Sebaiknya Tunda Perjalanan
Menurut Jusri, risiko kecelakaan tetap ada meskipun seseorang berkendara dalam kondisi normal. Ketika visibilitas menurun akibat asap tebal, risiko tersebut dapat semakin besar, baik bagi pengendara yang berpotensi menjadi korban maupun yang dapat menyebabkan kecelakaan.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk menghindari perjalanan apabila tidak benar-benar diperlukan ketika kondisi asap sedang pekat.

“Kalau situasi kondisi visibilitas seperti ini, asap yang tebal, kalau tidak perlu jalan atau berada di jalan maka hindarilah perjalanan tersebut,” ujar Jusri.

Ia juga menyarankan agar masyarakat mempertimbangkan alternatif komunikasi untuk menggantikan pertemuan langsung. Misalnya, menghubungi orang yang akan ditemui melalui telepon atau WhatsApp apabila perjalanan dapat ditunda.

Pada akhirnya, keselamatan berkendara di wilayah terdampak karhutla tidak hanya bergantung pada keterampilan mengendalikan sepeda motor, tetapi juga pada kemampuan menilai risiko dan mengambil keputusan yang tepat. Ketika jarak pandang sudah tidak memadai, menunda perjalanan merupakan pilihan yang lebih aman daripada memaksakan diri tetap berkendara.***

Halaman:

Tags

Terkini