Rabu, 21 Oktober 2026

Kisah Nyata Resale Value: Mengapa Mending Boyong SUV Bekas vs Mobil Listrik Baru Saat Ini?

Photo Author
Basran, Beranda-news.com
- Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:27 WIB
Budget 200 juta pilih beli SUV bekas apa Mobil EV baru / foto NKRI24JAM
Budget 200 juta pilih beli SUV bekas apa Mobil EV baru / foto NKRI24JAM

BerandaNews.Com - Pasar otomotif Indonesia di segmen Rp250–Rp300 jutaan kini inspirasi pilihan menarik. Di satu sisi, konsumen bisa memboyong segmen SUV bekas Compact bermesin konvensional (ICE) seperti Honda HR-V, Hyundai Creta, atau Wuling Almaz bekas tahun muda (2021–2023).

Di sisi lain, deretan mobil listrik baru (EV) dalam format SUV/Crossover ringkas seperti Jaecoo J5 EV, Wuling BinguoEV, hingga varian entry-level BYD Atto series semakin gencar menggiurkan pasar.
Namun, pertimbangan antara SUV bekas vs EV baru bukan sekedar memilih antara bahan bakar bensin atau daya listrik.

Jika dianalisis dari data industri dan tren pasar sekunder, ada risiko finansial tersembunyi yang perlu dikritisi.

1. Penyusutan Nilai: Kerugian Tersembunyi Mobil Listrik Baru
​Salah satu pertimbangan utama saat menyandingkan SUV bekas vs mobil listrik baru adalah depresiasi harga. EV baru memang menawarkan efisiensi biaya operasional harian yang sangat murah. Namun, nilai kendaraan listrik di pasar sekunder cenderung merosot jauh lebih cepat.

​Laporan iSeeCars Depreciation Study menelusuri data penurunan harga kendaraan secara global dan menemukan perbedaan signifikan antara mobil bermesin pembakaran internal dengan kendaraan listrik.

​"Jelas bahwa pembeli mobil bekas tidak lagi bersedia membayar harga premium untuk kendaraan listrik." ujar Karl Brauer, Executive Analyst di iSeeCars, yang di akses Selasa (20/10/2026).

​Temuan iSeeCars menunjukkan bahwa rata-rata EV kehilangan nilai hingga 57%–59% dalam 5 tahun pertama, sementara mobil bensin/SUV konvensional hanya menyusut sekitar 41%.
​Dalam konteks Indonesia, cepatnya penurunan harga EV baru dipicu oleh dua faktor mendasar:

​Laju Teknologi yang Terlalu Cepat: Perkembangan jarak tempuh baterai dan kecepatan pengisian daya (fast charging) berkembang pesat setiap tahunnya, membuat EV model lama terasa cepat tertinggal.

​Perang Harga Pabrikan: Diskon masif dan penyesuaian harga mobil listrik baru oleh produsen secara otomatis langsung menekan nilai resale value EV di pasar mobil bekas.

​2. Stigma Baterai vs Realita Resale Value
​Bagi konsumen yang mempertimbangkan pilihan SUV bekas apa EV baru, kecemasan akan daya tahan baterai menjadi faktor psikologis terbesar. Menariknya, riset teknis independen membuktikan bahwa baterai EV sebenarnya jauh lebih awet daripada dugaan publik.

​"Kabar baiknya, baterai EV bertahan sangat baik seiring waktu. Studi menunjukkan bahwa sebagian besar baterai kendaraan listrik akan bertahan lebih lama daripada usia fisik mobil itu sendiri." tulis laporan Greentec Auto dari Riset Geotab (Lembaga Analisis Telematika Otomotif Global.

​Data Geotab mencatat degradasi kapasitas baterai EV rata-rata hanya berkisar 2,3% per tahun. Sayangnya, selama belum ada standar resmi pemeriksaan kesehatan baterai (State of Health/SoH) yang transparan di pasar mobil bekas Indonesia, calon pembeli tetap enggan membayar mahal untuk EV bekas.

​Akibatnya, konsumen yang membeli EV baru hari ini berisiko menanggung rugi depresiasi yang besar saat ingin menjualnya kembali beberapa tahun mendatang.

​3. SUV Bekas: Kepastian Biaya & Kepraktisan Infrastruktur Indonesia
​Di segmen yang sama (Rp250–Rp300 juta), membeli SUV bekas berusia 2–4 tahun menawarkan kestabilan finansial dan kepraktisan yang lebih terprediksi:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Basran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Komparasi Adu Irit Honda PCX 160 vs Yamaha Nmax

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:55 WIB
X