BerandaNews.Com – Gunung Anak Krakatau mengalami lima kali erupsi pada Sabtu (17/10/2026) dini hari.
Aktivitas tersebut membuat abu vulkanik sempat terdeteksi bergerak ke arah barat dan mencakup sebagian perairan Selat Sunda di wilayah Pandeglang, Banten, serta selatan Lampung.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, sebaran abu vulkanik terdeteksi sekitar pukul 04.00 WIB dengan ketinggian mencapai 4.000 kaki atau sekitar 1,2 kilometer. Namun, tiga jam kemudian, abu vulkanik tidak lagi terdeteksi melalui citra satelit pada pukul 07.00 WIB.
Forecaster On Duty BMKG Lampung Adi Saputra mengatakan, sebaran abu yang terpantau pada pukul 04.00 WIB bergerak ke arah barat dari kawasan Anak Krakatau.
“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, sebaran abu vulkanik teridentifikasi ke arah barat, mencakup sebagian Selat Sunda bagian barat Pandeglang dan Selat Sunda bagian selatan Lampung,” kata Adi kepada awak media Sabtu, (17/10/2026).
Tidak terdeteksinya abu pada pemantauan berikutnya tidak otomatis berarti seluruh material telah mengendap atau tidak lagi berada di atmosfer.
“Pada analisis citra Himawari-9 pukul 07.00 WIB, sebaran abu vulkanik Anak Krakatau tidak terdeteksi. Hasil ini mengacu pada kondisi yang terpantau melalui citra satelit pada waktu tersebut,” ujarnya.
Lima erupsi Anak Krakatau terjadi pada pukul 01.31 WIB, 01.35 WIB, 01.40 WIB, 01.47 WIB, dan 02.15 WIB. Visual letusan tidak teramati, tetapi aktivitas tersebut terekam melalui seismograf dengan amplitudo dan durasi berbeda.
Erupsi pukul 01.40 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 40 milimeter dengan durasi 22 detik.
Kemudian, erupsi pukul 01.47 WIB memiliki amplitudo maksimum 55 milimeter selama 29 detik. Sementara erupsi pukul 02.15 WIB memiliki amplitudo maksimum 53 milimeter dengan durasi 28 detik.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Suwarno membenarkan lima erupsi tersebut.
Ia menyebut aktivitas gunung masih belum stabil meskipun kegempaan sempat menurun.
“Ya itu masih belum stabil, Mas,” kata Suwarno.
Menurut Suwarno, energi di dalam gunung masih berpotensi memicu erupsi kembali.