nasional

Temuan NASA, Emisi Karbon Karhutla Papua Tembus 35 Juta Ton, Tertinggi Ketiga dalam Sejarah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 11:43 WIB

Ketika hujan berkurang dalam waktu lama, vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar, sehingga api yang awalnya digunakan untuk mengelola lahan berisiko menyebar di luar kendali.

Para peneliti menyebut aktivitas manusia menjadi pemicu utama kebakaran di kawasan tersebut, termasuk pembukaan lahan pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, dan perburuan.

Peneliti Yang Chen dari University of California, Irvine, menilai aktivitas kebakaran pada 2026 meningkat tajam di Papua Indonesia dan Kalimantan dibandingkan Sumatera serta sejumlah wilayah Indonesia bagian barat.

NASA juga mengutip data Global Forest Watch yang mencatat kehilangan sekitar 27.000 hektare hutan primer di Papua Indonesia sepanjang 2025, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Perubahan bentang alam untuk perkebunan kelapa sawit, industri kayu pulp, pertanian, perluasan perkotaan, dan pertambangan turut menjadi tekanan terhadap kawasan hutan Papua.

Para peneliti memperkirakan kebakaran dapat berlanjut hingga hujan lebat musim penghujan tiba di bagian selatan Pulau New Guinea, yang biasanya terjadi pada awal November

Halaman:

Tags

Terkini