Ketika hujan berkurang dalam waktu lama, vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar, sehingga api yang awalnya digunakan untuk mengelola lahan berisiko menyebar di luar kendali.
Para peneliti menyebut aktivitas manusia menjadi pemicu utama kebakaran di kawasan tersebut, termasuk pembukaan lahan pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, dan perburuan.
Peneliti Yang Chen dari University of California, Irvine, menilai aktivitas kebakaran pada 2026 meningkat tajam di Papua Indonesia dan Kalimantan dibandingkan Sumatera serta sejumlah wilayah Indonesia bagian barat.
NASA juga mengutip data Global Forest Watch yang mencatat kehilangan sekitar 27.000 hektare hutan primer di Papua Indonesia sepanjang 2025, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Perubahan bentang alam untuk perkebunan kelapa sawit, industri kayu pulp, pertanian, perluasan perkotaan, dan pertambangan turut menjadi tekanan terhadap kawasan hutan Papua.
Para peneliti memperkirakan kebakaran dapat berlanjut hingga hujan lebat musim penghujan tiba di bagian selatan Pulau New Guinea, yang biasanya terjadi pada awal November
Artikel Terkait
Toyota Hadirkan Proactive Agent Call, Pemilik Mobil Bisa Dihubungi Sebelum Meminta Bantuan
Muhammad Lutfi Beri Hormat kepada Haji Isam, Soroti Akusisi Saham Bayan Resources 30,25 Persen
Krisis BBM Bikin Pusing? Simak Tips Hemat Bensin Motor Agar Tidak Sering Antri
Kebakaran Kembali Muncul di Barito Kuala, Warga Dibayangi Kepulan Asap
Ratusan Korban Dugaan Keracunan MBG di Cirebon, Dadan Halim Pertanyakan Menu Telur
Marak Mainan Suntikan Dijual ke Anak-anak, Orang Tua Harap Ada Perhatian Serius: Ini Bahaya Banget
Kepala MI di Lamongan Maafkan Oknum TNI yang Lakukan Pemukulan: Kontrol Emosi, Jaga Kesabaran dan Jangan Diulangi
Badai HKI Hantam BYD: Merek Denza Digugat Rp9,5 Triliun di PN Jakarta Pusat
Spesifikasi Hero Xtreme 160R 4V Yang dijual Rp24 jutaan Siap Hadapi Yamaha MT-15
Polwan dan Bhayangkari Polres Bulukumba Datangi Nakla Bayi Viral Di Rawat Nenek, Bawa Bantuan dan Doa Kesembuhan