Kamis, 22 Oktober 2026

3 Hari Padamkan Api Karhutla, Warga Papua Hadapi Ancaman di Tanah Leluhur

Photo Author
Basran, Beranda-news.com
- Kamis, 22 Oktober 2026 | 06:00 WIB
Kondisi salah satu titik api karhutla di Papua yang mengancam hutan dan ruang hidup masyarakat, di tengah upaya warga menjaga lingkungan. (Sumber: Threads/@helinaola)
Kondisi salah satu titik api karhutla di Papua yang mengancam hutan dan ruang hidup masyarakat, di tengah upaya warga menjaga lingkungan. (Sumber: Threads/@helinaola)

BerandaNews.Com — Karhutla Papua membakar ladang sagu di Kampung Turiram, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, sejak Sabtu, 17 Oktober 2026, sehingga masyarakat adat bergotong royong memadamkan api.

Kebakaran yang berlangsung hingga Senin, 19 Oktober 2026, itu mengancam sumber pangan sekaligus kawasan adat yang diwariskan turun-temurun.

Masyarakat adat setempat khawatir api meluas ke permukiman dan merusak dusun sagu yang menjadi bagian penting kehidupan mereka.

Karhutla Papua Ancam Sumber Pangan Masyarakat Adat

Pemuda adat Distrik Kimaam, Adrianus Tapiama, mengatakan warga masih berjuang mengendalikan kobaran api yang membakar ladang sagu.

“Sampai saat ini, Masyarakat Adat masih berjuang untuk memadamkan kobaran api yang membakar ladang sagu di kampung Turiram,” kata Adrianus pada Senin, 19 Oktober 2026.

Bagi masyarakat adat, dusun sagu bukan sekadar kawasan tanaman pangan, melainkan sumber penghidupan dan bagian dari warisan leluhur.

Sejumlah marga yang memiliki keterikatan dengan wilayah adat tersebut antara lain Kelapa, Kinambure, Saham, Kanjini, Werre, Babi, Bangau, Awi, Tumbaima, dan Mbarawa.

Adrianus berharap kebakaran segera teratasi agar api tidak meluas dan masyarakat tidak kehilangan sumber penghidupan mereka.

Hingga laporan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) diterbitkan pada Senin, luas area yang terbakar dan penyebab kebakaran belum diketahui.

Api Mengancam Ruang Hidup dan Warisan Leluhur

Kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan menjadi perhatian karena dampaknya dapat melampaui kerusakan vegetasi, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada hutan.

Dusun sagu menyediakan bahan pangan sekaligus menjadi bagian dari ruang hidup dan identitas masyarakat adat di wilayah tersebut.

Ketika kawasan itu terbakar, masyarakat berisiko kehilangan sumber pangan dan menghadapi ketidakpastian pemulihan lingkungan yang menopang kehidupan sehari-hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Basran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X