nasional

Bukan Cuma Jakarta, Asap Karhutla Kini Terdeteksi di Banten dan Jawa Barat

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:54 WIB
BMKG mendeteksi sebaran asap karhutla dari Sumatra dan Kalimantan telah mencapai Jakarta, Banten hingga Jawa Barat (Threads/ananda_ng).

BerandaNews.Com – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari wilayah Sumatra dan Kalimantan terdeteksi menyebar hingga DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. 

Kondisi tersebut sempat diunggah oleh akun threads @ananda_ng pada Sabtu, (17/10/2026). Memperlihatkan kondisi asap karhutla di Utara Kota Bandung.

Oleh karena itu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai kondisi udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan keberadaan asap tersebut diketahui melalui analisis citra satelit terbaru. 

Sebaran asap terpantau mencapai sejumlah wilayah di Pulau Jawa, termasuk Banten dan Jawa Barat.

“Kalau kita lihat dari citra sebaran asap wilayah Indonesia yang dirilis BMKG, itu hasil deliniasi terdeteksi asap yang sudah masuk ke wilayah Banten, maupun Jawa Barat, ataupun di Jakarta sendiri,” kata Guswanto kepada awak media Sabtu (17/10/2026).

Menurut Guswanto, asap yang mencapai Jakarta, Banten, dan Jawa Barat berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan. 

Sementara itu, asap dari kebakaran di Merauke dan Papua Selatan terpantau bergerak hingga wilayah Maluku.

Pergerakan asap tersebut turut dipengaruhi pola angin. Guswanto menjelaskan, secara umum angin bergerak dari arah timur-tenggara menuju barat laut-utara.

“Kalau saya lihat baru dari seluruh citra satelit baru hari ini. Kemarin sore juga belum,” ucap Guswanto.

Meski sebaran asap telah terdeteksi melalui citra satelit, BMKG mengingatkan masyarakat tidak langsung menyimpulkan tingkat paparan polutan di permukaan tanah hanya berdasarkan hasil pemantauan tersebut.

Menurut BMKG, indikator yang lebih penting untuk melihat risiko kesehatan adalah data kualitas udara, khususnya konsentrasi partikel halus PM2.5.

“Dan yang paling penting itu menentukan risiko kesehatan adalah dengan melihat data kualitas udaranya, PM 2.5 atau air quality ya saat itu. Itu itu penting ya, jadi tolong juga dilihat air quality-nya,” tutur Guswanto.

BMKG juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga yang ingin berolahraga disarankan memilih aktivitas di dalam ruangan.

Halaman:

Tags

Terkini