BerandaNews.Com — Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat terpantau memasuki wilayah Jabodetabek pada Jumat, 16 Oktober 2026, mulai bergerak menjauh sehari kemudian.
Namun, kualitas udara di Jakarta masih bervariasi di sejumlah titik pada Senin, 19 Oktober 2026, sehingga masyarakat perlu memeriksa kondisi udara di sekitar tempat tinggal sebelum beraktivitas di luar ruangan.
Asap Menjauh, Kualitas Udara Belum Merata
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Berdasarkan pemantauan satelit pada Sabtu, 17 Oktober 2026, sebaran asap tersebut mulai bergerak menjauh secara bertahap.
Meski demikian, sisa asap masih terdeteksi di pesisir barat Banten pada ketinggian sekitar 3–5,4 kilometer.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa asap yang terlihat melalui pemantauan satelit tidak selalu menandakan peningkatan polusi di permukaan.
“Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing,” kata Guswanto dalam keterangan resmi BMKG, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Karena itu, pergerakan asap yang menjauh dari Jabodetabek tidak otomatis berarti kualitas udara di seluruh wilayah Jakarta sudah baik. Pengukuran polutan di permukaan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi yang benar-benar dihadapi masyarakat.
Kualitas Udara Jakarta Berbeda di Setiap Wilayah
Data pada platform pemantauan kualitas udara resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan kondisi yang tidak seragam pada Senin, 19 Oktober 2026.
Di stasiun pemantauan Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur, indeks standar pencemar udara (ISPU) tercatat sebesar 114 atau masuk kategori tidak sehat.
Data tersebut diperbarui pada pukul 00.00 WIB, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 60,9 mikrogram per meter kubik.
Sementara itu, stasiun PPOP Ragunan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mencatat ISPU sebesar 25 atau kategori baik.